Copyright © 2019 WISEsg. All rights reserved.

WATCH

in the news

Dari Jihad Senjata ke Jihad Kemanusiaan, Deradikalisasi Eks Teroris oleh Noor Huda-Hassan Ahmad

Dua pegiat kemanusiaan dari Indonesia dan Singapura sepakat menggelar kerja sama jangka panjang.

Mereka bersama-sama ambil bagian dalam isu-isu kemanusiaan.

Keduanya adalah Noor Huda Ismail, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) Indonesia, dan Hassan Ahmad yang mendirikan Mercy Relief, Lien Aid, dan Corporate Citizens Foundation (CCF).

Noor Huda aktif bergerak di bidang deradikalisasi terorisme sedangkan Hassan juga konsultan kebijakan untuk badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan ASEAN.

Kerja sama itu dibahas dalam kegiatan Counter Violence Extremism (CVE) Communication Workshop yang digelar Prasasti Production YPP di Park Hotel, Cawang, Jakarta Timur, Rabu-Jumat (14-16/3/2018).

Peserta berjumlah 30 orang, terdiri atas ustaz, ustazah, dan eks-teroris.

Huda meminjam hukum Fisika menyebut, energi tidak dapat dihilangkan tapi hanya dapat dialihkan, .

Demikian juga energi dari para eks pelaku teror yang ada.

"Energi mereka harus dialihkan ke hal-hal positif," kata Huda dalam rilis kepada Tribunjateng.com.

Salah satu cara dalam upaya ini adalah mencoba mengalihkan energi mereka untuk isu-isu kemanusiaan.

Kerja sama ini digagas untuk mewadahi itu.

Dia berharap, cara ini bisa menjadi pendekatan alternatif untuk upaya deradikalisasi.

“Jadi ketika sudah ada wadahnya, mereka bisa dikirim untuk misi-misi kemanusiaan. Semisal ketika terjadi bencana alam,” lanjutnya.

Adapun Hassan berbagi pengalaman tentang kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang sudah dilakukan.

Mulai dari misi kemanusiaan di daerah konflik di Timur Tengah hingga bencana alam di Filipina dan negara-negara lain.

"Upaya kemanusiaan harus terlepas dari agama, ras atau kewarganegaraan,” sebut Hassan.

Dia antusias atas masa depan kerja sama dengan YPP ini.

Apalagi Hassan menyadari Indonesia merupakan negara yang mempunyai tingkat kerawanan kebencanaan yang cukup tinggi.

“Ini bisa menjadi wadah bagi mantan teroris untuk menyalurkan semangat perjuangan mereka. Dari jihad angkat senjata yang menimbulkan kerusakan beralih ke jihad yang berdasarkan niat baik, kesejahteraan dan pembangunan,” lanjutnya.

Dalam waktu dekat, penerapan kerja sama ini adalah pembentukan badan kemanusiaan.

Akan ada pelatihan, prinsip, filosofi dan mekanisme kerja kemanusiaan sesuai standar internasional.

Kharis Hadirin dari YPP yang mengerjakan proyek kerja sama ini menyebut kemanusiaan menjadi platform unik untuk masuk di level sosial yang lebih global.

“Pada awal 2018 ini sudah mulai digarap. Mudah-mudahan dalam waktu dekat segera dibentuk. Nanti akan melibatkan berbagai macam elemen, tidak mesti harus agama yang sama, semua bisa bergabung,” kata Kharis.

Melalui kegiatan ini, dia berharap bisa membuka ruang diskusi baru bagi anggotanya untuk bisa bersikap toleran. *